Tampilkan postingan dengan label Perjuangan Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perjuangan Islam. Tampilkan semua postingan

10/18/2013

Ketika Khilafah Berdiri di Suriah, Bagaimana Cara Khilafah Menghadapi Gempuran Musuh



          Banyak pihak yang sangsi, jika Khilafah berdiri di Suriah, negeri itu bisa bertahan dari gempuran musuh. Terlebih, jauh-jauh hari sebelum Khilafah berdiri di sana, pasukan koalisi yang dipimpin oleh AS, dengan kapal induknya, ditambah Rusia yang juga sudah menyiapkan kapal induknya, kini berada di perairan Suriah. Belum lagi, dengan kedok NATO, AS, Jerman, dan Belanda telah menyiapkan rudal patriotnya di perbatasan Turki dan Suriah. Ditambah lagi, pengkhianatan para penguasa dan antek-antek AS dan Inggris di beberapa negara ring Suriah, seperti Turki, Iran, Hizbullah di Libanon, Yordania, Qatar dan Saudi. Mungkinkah Khilafah yang baru berdiri di Suriah itu bisa bertahan, dan memenangkan “Perang Salib”?
          Meski perlu dicatat, bahwa Khalifah kaum Muslim saat itu jauh lebih hebat daripada penulis, sehingga apa yang penulis tuangkan dalam tulisan ini sekadar serpihan-serpihan dari pembacaan terhadap situasi saat ini, karakter umat Islam di Suriah dan sejarah mereka dan umat Islam di masa lalu.
Situasi Saat Ini
          Lambat tetapi pasti, pejuang Muslim (Mujahidin) di Suriah, dari berbagai faksi, telah berhasil menguasai sebagian besar wilayah Suriah, sehingga semakin hari kekuasaan Bashar semakin terdesak, dan membuatnya tidak bisa tidur nyenyak. Setiap saat, dia dan keluarganya terpaksa berpindah-pindah tempat tidur. Kondisi ini tentu bukan hanya dialami oleh Bashar, tetapi juga AS dan sekutunya, termasuk para penguasa boneka di Timur Tengah. Inilah yang membuat AS dan sekutunya itu bekerja keras siang dan malam untuk mengaborsi Revolusi Islam di Suriah, agar gagal mewujudkan cita-citanya menegakkan Khilafah. Jika upaya ini gagal, maka AS dan sekutunya sudah menyiapkan skenario “Perang Salib” yang didukung pasukan koalisi dan antek-antek mereka di kawasan tersebut.
          Saat ini, kapal induk AS USS Eisenhower dilaporkan sudah merapat di perairan Suriah, di Laut Mediterania. Kapal perang AS itu membawa delapan skuadron jet tempur pembom dan 8.000 prajurit. Jangkar kapal induk USS Eisenhower itu saat ini sudah ditancapkan di lepas pantai Suriah, bergabung dengan kapal perang USS Iwo Jima yang membawa  2.500 pasukan dengan perlengkapan perang penuh. Pengiriman kapal induk AS ini menyusul keputusan NATO, pada hari Selasa (4/12/2012) untuk menyebarkan sistem rudal Patriot di sepanjang perbatasan Turki dengan Suriah (Islam Times, 6/12/2012).
          Bahkan, jauh sebelumnya, Juli 2012 yang lalu, kapal perang Rusia sudah melakukan konvoi di perarian Suriah (Kompas, 13/7/2012). Ditambah lagi, Rusia juga telah mengirimkan kapal induknya, Kuznetsov, ke Suriah (Siberian Light, 29/11/2011). Bahkan, menurut Global Security, kapal selam kelas Sierra II berukuran panjang 110,5-112,7 meter dengan lebar lambung 11,2-12,3 meter milik AL Rusia juga dideteksi telah masuk wilayah perairan Suriah (CNN, 7/11/2012).
          Semuanya ini jelas-jelas menunjukkan ketakutan mereka yang luar biasa terhadap berdirinya Khilafah di Suriah. Jika mereka gagal menggagalkan berdirinya Khilafah, maka mereka sudah siap untuk menggempur Khilafah yang baru berdiri itu dari berbagai penjuru.

Karakter Umat Islam
          Kaum Muslim di Suriah ini tidak bisa dipisahkan dari induk kaum Muslim di Syam, karena mereka adalah satu. Mereka disebut sebagai Syam ar-Rasul, wilayahnya disebut sebagai Shafwa Biladi-Llah. Keteguhan mereka telah dinyatakan oleh Nabi dalam hadits, bahkan mereka telah dijamin dan dilindungi oleh Allah, melalui lisan Nabi-Nya. Sampai Nabi bersabda, “Idza fasada Ahlu as-Syam la khaira fikum (Jika penduduk Syam telah rusak, maka tidak ada lagi kebaikan di tengah-tengah kalian).” (HR. Ahmad, at-Tirmidzi dan Ibn Hibban).

          Wilayah ini dahulu dibebaskan oleh Abu Ubaidah al-Jarrah dan Khalid bin al-Walid pada tahun 14 H/637 M di masa Khalifah Umar bin al-Khatthab. Pernah menjadi ibukota Khilafah pada tahun 40-132 H/661-750 M. Dari sinilah, Muhammad bin al-Qasim at-Tsaqafi membebaskan India; Qutaibah bin Muslim al-Bahili membebaskan Samarkand; Thariq bin Ziyad dan Musa bin Nushair membebaskan Spanyol; Maslamah bin Abdul Malik mengepung Konstantinopel. Semuanya di era Khilafah Umayyah.
          Saat Perang Salib, wilayah ini berhasil dikuasai oleh tentara Salib, dan dibebaskan kembali oleh pasukan Nuruddin az-Zinki dan Shalahuddin al-Ayyubi, kemudian disatukan kembali dalam pelukan Khilafah. Setelah era Khilafah Utsmaniyyah, wilayah ini bergabung dengan Khilafah tahun 1516-1918 M, hingga jatuh ke tangan Prancis tahun 1920 M.

          Keistimewaan penduduk Muslim Suriah, sebagai bagian dari Ahl as-Syam, yang dinyatakan dalam hadits Nabi di atas bisa dibuktikan dalam sejarah perjuangan rakyat Palestina, yang tidak pernah padam, sejak dimulainya pendudukan Israel tahun 1948 hingga saat ini. Kini gambaran itu juga tampak pada perjuangan Mujahidin Suriah, yang sudah memasuki 28 bulan perlawanan mereka untuk menggulingkan rezim kufur Bashar Assad, la’natu-Llah. Selain itu, darah sahabat agung, Abu Ubaidah, Khalid bin al-Walid dan lain-lain, juga darah ksatria agung, seperti Shalahuddin al-Ayubi dan lain-lain juga mengalir dalam diri mereka. Para pejuang Muslim Suriah dan Palestina saat ini adalah cucu-cucu Khalid bin al-Walid; cucu-cucu Abu Ubaidah al-Jarrah; cucu-cucu Shalahuddin al-Ayyubi, dan para ksatria agung di masa lalu. Inilah sejarah agung mereka. Hanya saja, sejarah itu ditutupi oleh penindasan rezim kufur yang ditanamkan di tengah-tengah mereka oleh kaum kafir penjajah.

          Karena itu, kaum Muslim di Suriah, sebagaimana di Palestina, Yordania dan Libanon mempunyai potensi yang kuat dan mengakar dalam tubuh mereka darah-darah agung para sahabat dan ksatria agung di masa lalu. Potensi ini, ditambah dengan potensi keimanan yang kuat dalam diri mereka, menjadi pondasi yang kokoh bagi Khilafah di sana. Karena itu, meski secara fisik dan materi, saat ini wilayah tersebut porak-poranda akibat perang, tetapi dengan potensi yang mereka miliki itu, dengan cepat kerusakan tersebut akan bisa dipulihkan. Bahkan, kerusakan itu tidak menghalangi wilayah itu untuk menjadi ibukota Khilafah kembali. Inilah yang dinyatakan oleh Nabi, “Uqru dar al-Islam bi as-Syam (Pusat negara Islam itu ada di Syam).” (HR at-Thabrani)

Strategi Khilafah Menghadapi Musuh
          Dengan potensi seperti ini, persyaratan dasar bagi tegaknya Khilafah di suatu wilayah bisa terpenuhi. Tinggal bagaimana Khilafah mempertahankan kekuasaannya dari gempuran musuh-musuh yang kini sudah siap menyongsong Perang Salib berikutnya itu? Dilihat dari peta wilayah, saat ini AS, Rusia dan sekutunya telah memarkir kapal induknya di perairan Suriah, berbatasan dengan Libanon. Di sebelah Libanon, ada Yordania. Di sebelahnya lagi ada Irak, berbatasan dengan Turki.

          Dengan kondisi seperti ini, yang bisa dilakukan oleh Khilafah, tentu tidak mungkin melawan kekuatan AS, Rusia dan sekutunya itu sendiri, terlebih para penguasa wilayah di sekelilingnya adalah agen AS dan Inggris. Maka, Khilafah bisa menyatukan Yordania dan Libanon terlebih dulu. Caranya dengan memanfaatkan kekuatan dan pengaruh kaum Muslim, khususnya Hizbut Tahrir dan ahlu al-halli wa al-aqdi di kawasan tersebut. Ketika Suriah, Yordania dan Libanon berhasil disatukan, maka tidak mustahil Irak, Turki, Mesir dan Pakistan juga bisa. Khalifah juga akan menyerukan kepada seluruh kaum Muslim di seluruh dunia untuk segera bergabung dengan Khilafah, dengan memberikan bai’at tha’at kepadanya. Setelah itu, mereka harus bahu-membahu memberikan bantuan yang dibutuhkan oleh Khilafah untuk melawan musuh-musuhnya. Karena Khilafah ini adalah negara mereka. Tentang strategi perang ini, Amir Hizbut Tahrir saat ini, al-‘Alim ‘Atha’ Abu Rusythah telah mengulas dalam tulisannya di tahun 90-an abad lalu.

          Jika ini terjadi, maka Perang Salib ini akan mengulangi peristiwa Perang Ahzab, di mana pasukan kaum Muslim yang dipimpin oleh Nabi SAW saat itu dikepung oleh pasukan koalisi yang terdiri dari kafir Quraisy, Yahudi dan munafik. Persis sama seperti saat ini. AS, Rusia dan sekutunya seperti kafir Quraisy saat itu, sementara Yahudi, sejak tahun 1948 sudah ditanamkan di wilayah itu, dan kaum munafik tampak para para penguasa Turki, Iran, Yordania, dan lain-lain. Dengan izin dan pertolongan Allah, pasukan koalisi kaum kafir, Yahudi dan munafik ini pun akan kembali dikalahkan olehJaisy Muhammad SAW (pasukan Muhammad saw), tentara Khilafah Rasyidah ‘ala Minhaj Nubuwwah yang kedua. Wallahu a’lam. [htipress/syabab.com]

9/09/2013

Pesan Khalifah Umar Ibnu Abdil Aziz Kepada Para Mujahid


          Di saat Umar Ibnu abdil Aziz  mengutus Manshur Ibnu Ghalib untuk memerangi ahlul harb (negara yang terlibat perang dengan kaum Muslimin)   dia berpesan agar para mujahidin senantiasa menjaga ketakwaannya kepada Allah SWT di manapun mereka melaksanakan tugas mulia, li I’laai kalimatillah. Dalam pesannya itu dia menyatakan bahwa ketakwaan adalah bekal utama, kekuatan terbesar, sekaligus strategi yang paling dibutuhkan dalam menghadapi musuh-musuh mereka. 

          Dia pun memperingatkan: “Janganlah kalian menjadikan sesuatu apapun dari musuh-musuh kalian (besarnya jumlah pasukan dan kekuatan persenjatan yang mereka miliki)  lebih kalian takuti dari pada kemaksiatan kepada Allah SWT. Ketahulilah, dosa dosa kalian lebih aku khwatirkan dari pada seluruh makar, tipudaya, dan kejahatan musuh yang akan kalian hadapi. Sungguh, kemenangan kita tidak lain karena kemaksiatan yang mereka lakukan. Jika tidak,  niscaya kita tidak memiliki kekuatan apapun yang bisa mengalahkan mereka; jumlah mereka tidak sebanding dengan kita,  begitupun persenjataan, logistik serta perlengkapan perang yang mereka miliki jauh melebihi apa yang kita telah persiapkan. Oleh karena itu,  seandainya kita bermaksiat seperti mereka, tentu mereka lebih kuat dan lebih mudah mengalahkan kita dengan jumlah dan perlengkapan yang mereka miliki itu. Dan ketahuilah, kita dimenangkan oleh Allah SWT atas mereka tiada lain karena kebenaran yang kita perjuangkan, bukan hanya seberapa besar kekuatan yang kita miliki. Dan ingatlah, bahwa kalian senantiasa dilindungi dan diwasai oleh para malaikat Allah Swt, mereka mengetahui segala tindakan kalian, baik dalam perjalanan maupun tempat persinggahan kalian, maka hendaklah kalian malu terhadapnya, berbuat baiklah, dan janganlah kalian menyakiti mereka dengan kemaksiatan-kemaksiatan yang kalian lakukan, sementara kalian menyangka  bahwa kalian sedang berjuang di jalan Allah SWT” (Abdillah Ibni Abdil al-Hakam, Sirot ‘Umar Ibni ‘Abdil ‘Aziz ‘Ala Maa Rowahu al-Imam Malik Ibnu Anas Wa Ash-Habuhu, hal. 76)

          Secara lebih khusus Khalifah juga memberi pesan kepada Manshur Ibnu Ghalib sebagai pemimpin pasukan kaum Muslimin,  untuk senantiasa memperhatikan kondisi para mujahidin, memperlakukan mereka dengan penuh kasih sayang, serta tidak memaksa mereka menempuh satu perjalanan berat yang membuat kekuatan fisik mereka  melemah sebelum berhadapan dengan musuh, sebab hal itu akan membuat musuh-musuh kaum Muslimin semakin kuat. Oleh karenanya, dia memerintahkan kepada Manshur Ibnu Ghalib untuk memberikan kesempatan kepada para mujahid beristirahat sehari semalam dari perjalanan mereka, yakni setiap hari Jumat, di mana mereka dapat meletakkan senjata dan perbekalan untuk memulihkan kembali kondisi fisik mereka.

          Dari pesan-pesan di atas tampak setidaknya ada dua hal penting yang mendapat perhatian besar Sang Khalifah  dalam menghadapi kekuatan besar musuh-musuh Islam, pertama: ketakwaan para mujahidin, di mana sedikit saja mereka lalai dari mengingat Allah SWT, apalagi bermaksiat kepada-Nya, maka mereka akan sangat mudah dikalahkan. Namun sebaliknya, ketika mereka senantiasa menjaga ketakwaan kepada Allah SWT, maka betapun besarnya kekuatan musuh niscaya dengan izin Allah Swt mereka bisa menghadapinya. Kedua: soliditas dan rasa kasih sayang di antara kaum Muslimin serta optimalisasi seluruh kemampuan yang mereka miliki, termasuk kondisi fisik mereka. Jika hal ini tetap dijaga, maka kekuatan besar itu akan mampu dienyahkan, meski kaum Muslimin secara dzahiriyah harus berperang dengan jumlah pasukan dan persenjataan yang tidak sebanding dengan kekuatan musuh.

          Pesan inilah yang harus senantiasa dijaga oleh para pejuang-pejuang Islam saat ini. Semoga dengan izin Allah SWT, segala kendala, rintangan, hambatan bahkan kekhawatiran akan besarnya kekuatan musuh-musuh Islam bisa dihilangkan. Sebaliknya,  kita senantiasa yakin bahwa Allah SWT bersama hamba-hambanya yang bertakawa dan terus berjuang menolong agama-Nya. Wallahu a’lam. Abu Muhtadi