9/24/2013

PKS Dalam Kubangan Permainan Kotor Demokrasi



Oleh : Abdus Salam (Lajnah Siyasiyah HTI Jawa Timur)
          KPK sudah menetapkan Luthfi sebagai tersangka pada Rabu (30/1) malam. Bersama Luthfi, penyidik menetapkan tiga tersangka lainnya yakni dua direktur PT. Indoguna Utama Juard Effendi dan Arya Abdi Effendi. Serta Ahmad Fathanah. Ahmad Fathanah ditangkap bersama Maharani oleh KPK di Hotel Le Meredien Jakarta, Selasa (29/1) sekitar pukul 20.20 WIB. Dari mereka didapatkan uang senilai Rp 1 miliar yang diduga akan diberikan kepada LHI atau Luthfi Hasan Ishaaq. (republika.co.id)
Belum reda berita tersangka korupsi oleh kader Partai Demokrat Andi Malarangeng dan Angie, media santer memberitakan dugaan suap impor daging sapi oleh tesangka Lutfhi Hasan Ishaaq dari PKS, sebuah Partai Politik yang terkenal dengan kampanye “PKS Bersih”. Perbincangan mengenai partai politik di negeri ini tidak pernah berhenti. Dinamika kehidupan partai politik menjadi indikator utama Demokrasi. Partai Politik seolah menjadi satu-satunya saluran resmi aspirasi rakyat untuk menentukan nasib kehidupannya sendiri. Namun harapan rakyat menitipkan nasib kehidupannya kepada partai politik menjadi “Jauh panggang dari api”. Turunnya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap partai politik menjadi bukti. Partai politik dalam sistem politik Demokrasi, apapun orientasi ideologisnya pasti terjebak permainan pragmatis. Partai politik sudah pasti akan sibuk dan fokus untuk memperbesar asset dukungan dan akses kekuasaan melalui jalur parlemen penuh dengan permainan kotor. Partai Politik yang harusnya mengedukasi dan mencerdaskan rakyat dengan keteladanan.  Justeru menjadi problem maker yang semakin memberatkan kehidupan rakyat di tengah deraan kehidupan multi kompleks. Inilah gambaran sebenarnya kehidupan partai politik yang bobrok buah konsekuensi dari pilihan sistem Demokrasi. Dengan kata lain Demokrasi akan mencetak para elit penguasa dan elit politik yang korup dan penipu. Pertanyaannya apakah masyarakat masih tetap percaya pada partai politik untuk menyalurkan aspirasinya ? Dan apakah masyarakat masih tetap percaya bahwa partai politik yang menjadi kontestan pemilu apapun orientasi visi-misi dan ideologisnya mampu benar-benar memperjuangkan nasib rakyat di tengah kondisi mengurusi partainya sendiri tidak mampu ?

Ironi PKS
          PKS (Partai Keadilan Sejahtera) adalah partai politik yang didirikan di atas basis kader yang pada awalnya getol melakukan aktivitas dakwah. Pada proses perkembangan berikutnya kelompok yang pada awalnya sebuah jamaah dakwah itu mau tidak mau harus beradaptasi dengan kehidupan politik praktis dalam sistem Demokrasi Sekuler. Hal yang sama dilakukan di beberapa negara lain, seperti Ikhwanul Muslimin di Mesir yang menempuh jalur parlemen sebagai jalur perjuangan. Pada awalnya PKS seolah berobsesi untuk ikut mewarnai kehidupan politik Demokrasi Sekuler dengan muatan ideologis Islam. Namun saat ini justeru bukan makin mewarnai melainkan semakin banyak “diwarnai”. Peristiwa yang menimpa Presiden sekaligus Pendiri PKS; Luthfi Hasan Ishaaq sebagai tersangka dalam kasus suap impor daging sapi hendaknya menjadi sebuah pelajaran berharga. Mungkin berkembang pendapat bahwa itu bukan representasi PKS melainkan oknum. Atau bahwa ini semacam skenario untuk menjatuhkan PKS menjelang Pilpres 2014, seperti dugaan adanya skenario kasus melihat filem porno anggota DPR-RI dari FPKS pada saat sidang DPR. Tetapi sesungguhnya, berharap berjuang di belantara sistem politik Demokrasi Sekuler untuk mencapai tujuan perjuangan yang hakiki adalah “sangat utopis”.  Demokrasi  bukanlah sebuah alat seperti pisau atau pedang yang bisa digunakan sesuai kemauan yang membawanya tetapi sejatinya Demokrasi seperti “senjata makan tuan” yang diciptakan oleh Penjajah sebagai alat bunuh diri politis. Karena sesungguhnya Demokrasi adalah Political Trap (Jebakan Politik) dan Intelektual Trap (Jebakan Intelektual) bagi yang mengadopsi dan yang mengikutinya. Selain bertentangan dengan Islam, Demokrasi sengaja dicangkokkan sebagai frame of destroy untuk meluluh lantakkan kehidupan kaum muslimin dan bahkan kehidupan manusia di bawah hegemoni minoritas (elit penguasa berkolaborasi dengan elit pengusaha) atas nama suara rakyat semu karena tidak pernah terwujud realitas mewakili suara rakyat. Inilah yang seharusnya dipahami oleh para elit PKS, kader, konstituen, simpatisan dan massanya. Tidak ada jalan lain meraih kemuliaan perjuangan kecuali kembali secara hanif mengikuti thoriqoh perjuangan yang dipraktekkan oleh Rasullullah SAW dengan meninggalkan gelanggang perjuangan kotor, haram dan maksiat sistem Demokrasi. Penting untuk direnungkan bahwa mencapai tujuan benar, haram hukumnya dengan menghalalkan segala cara. Lalu pertanyaanya kemudian adalah bagaimana seharusnya sebuah partai politik didirikan dan berjuang.

Partai Politik dalam pandangan Islam
          Makna Hizbun (Partai) dan Siyasah (Politik) dalam pandangan Islam adalah  suatu kelompok yang terorganisir yang anggota-anggotanya mempunyai orientasi, nilai-nilai, cita-cita dan tujuan yang sama dalam rangka mengurusi urusan rakyat. Atau merupakan kelompok yang berdiri diatas sebuah landasan ideologi (Islam) yang diyakini oleh anggota-anggotanya, yang ingin mewujudkannya di tengah masyarakat.  Karakteriistik Partai Politik menurut Islam sebagaimana Firman Allah SWT : “Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang menkar, merekalah orang-orang yang beruntung. (QS. Ali ‘Imran [3]: 104). Menurut Imam al-Qurthubiy, ummah dalam ayat ini adalah kelompok karena adanya lafadz minkum (diantara kalian). Imam ath-Thabari, menafsirkannya dengan: “(Wal takun minkum) Ayuhal mu’minun (ummatun) jama’atun”,  (hendaklah ada di antaramu (wahai orang-orang yang beriman) umat (jamaah yang mengajak pada hukum-hukum Islam). Sedangkan al-Khair menurut Imam Jalalayn  adalah al-Islam, adapun menurut Ibn Katsir, al-Khair adalah al-Qur’an dan as-Sunnah.

Maka partai Islam yang Ideologis mempunyai beberapa karakter, diantaranya:

1. Dasarnya adalah Islam. Hidup dan matinya adalah untuk Islam 2. Para anggotanya berkepribadian Islam, mereka berpikir dan beraksi berdasarkan Ideologi Islam, yang dihsilkan dari pembinaan yang dilakukan oleh mereka dalam memahami Islam sebagai sebuah Ideologi yang harus diterapkan 3. Memiliki amir/ pimpinan partai yang memiliki pemahaman yang menyatu dan mendalam terhadap Islam. Yang ia dipatuhi selama sesuai dengan al-Quran dan Sunnah 4. Memiliki konsepsi (fikrah) yang jelas terkait berbagai hal. Partai Islam haruslah memiliki konsepsi (fikrah) yang jelas tentang sistem ekonomi, sistem politik, sistem pemerintahan, sistem sosial, sistem pendidikan, politik luar dan dalam negeri dll. Semuanya harus tersedia dan siap untuk disampaikan kepada masyarakat, hingga mereka menganggap penerapan semua sistem tersebut menjadi kebutuhan bersama

5. Mengikuti metode yang jelas dalam perjuangannya sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah saw. yakni. Pertama, melakukan pembinaan pengkaderan dengan pemahaman Ideologi Islam, beserta metode penerapannya.Kedua, bergerak dan berinteraksi bersama masyarakat, sehingga kader-kader partai menyatu bersama pola pikir dan pola sikap masyarakat. Artinya: kader-kader partai tersebut, harus mengopinikan Islam ketengah-tengah masyarakat apa adanya dan tanpa ditutup-tutupi. Selain itu kader partai juga harus, melakukan perjuangan politik, yakni, membongkar konspirasi jahat untuk menghancurkan wilayah kaum muslim, juga pergolakan pemikiran, yakni, menentang ide-ide kufur, seperti Demokrasi, Kapitalisme, Sosialisme juga Komunisme, karena semuanya memang bertentangan dengan Islam.Ketiga, menegakkan syariah Islam secara total dengan dukungan dan bersama dengan rakyat, hal tersebut akan tercapai bilamana masyarakat secara alami sudah rindu diatur oleh syariah Islam dalam bingkai khilafah rasyidah ala minhajin nubuwah. Wallahu ‘Alam bis showab.

(Eramuslim.com)

9/09/2013

Pesan Khalifah Umar Ibnu Abdil Aziz Kepada Para Mujahid


          Di saat Umar Ibnu abdil Aziz  mengutus Manshur Ibnu Ghalib untuk memerangi ahlul harb (negara yang terlibat perang dengan kaum Muslimin)   dia berpesan agar para mujahidin senantiasa menjaga ketakwaannya kepada Allah SWT di manapun mereka melaksanakan tugas mulia, li I’laai kalimatillah. Dalam pesannya itu dia menyatakan bahwa ketakwaan adalah bekal utama, kekuatan terbesar, sekaligus strategi yang paling dibutuhkan dalam menghadapi musuh-musuh mereka. 

          Dia pun memperingatkan: “Janganlah kalian menjadikan sesuatu apapun dari musuh-musuh kalian (besarnya jumlah pasukan dan kekuatan persenjatan yang mereka miliki)  lebih kalian takuti dari pada kemaksiatan kepada Allah SWT. Ketahulilah, dosa dosa kalian lebih aku khwatirkan dari pada seluruh makar, tipudaya, dan kejahatan musuh yang akan kalian hadapi. Sungguh, kemenangan kita tidak lain karena kemaksiatan yang mereka lakukan. Jika tidak,  niscaya kita tidak memiliki kekuatan apapun yang bisa mengalahkan mereka; jumlah mereka tidak sebanding dengan kita,  begitupun persenjataan, logistik serta perlengkapan perang yang mereka miliki jauh melebihi apa yang kita telah persiapkan. Oleh karena itu,  seandainya kita bermaksiat seperti mereka, tentu mereka lebih kuat dan lebih mudah mengalahkan kita dengan jumlah dan perlengkapan yang mereka miliki itu. Dan ketahuilah, kita dimenangkan oleh Allah SWT atas mereka tiada lain karena kebenaran yang kita perjuangkan, bukan hanya seberapa besar kekuatan yang kita miliki. Dan ingatlah, bahwa kalian senantiasa dilindungi dan diwasai oleh para malaikat Allah Swt, mereka mengetahui segala tindakan kalian, baik dalam perjalanan maupun tempat persinggahan kalian, maka hendaklah kalian malu terhadapnya, berbuat baiklah, dan janganlah kalian menyakiti mereka dengan kemaksiatan-kemaksiatan yang kalian lakukan, sementara kalian menyangka  bahwa kalian sedang berjuang di jalan Allah SWT” (Abdillah Ibni Abdil al-Hakam, Sirot ‘Umar Ibni ‘Abdil ‘Aziz ‘Ala Maa Rowahu al-Imam Malik Ibnu Anas Wa Ash-Habuhu, hal. 76)

          Secara lebih khusus Khalifah juga memberi pesan kepada Manshur Ibnu Ghalib sebagai pemimpin pasukan kaum Muslimin,  untuk senantiasa memperhatikan kondisi para mujahidin, memperlakukan mereka dengan penuh kasih sayang, serta tidak memaksa mereka menempuh satu perjalanan berat yang membuat kekuatan fisik mereka  melemah sebelum berhadapan dengan musuh, sebab hal itu akan membuat musuh-musuh kaum Muslimin semakin kuat. Oleh karenanya, dia memerintahkan kepada Manshur Ibnu Ghalib untuk memberikan kesempatan kepada para mujahid beristirahat sehari semalam dari perjalanan mereka, yakni setiap hari Jumat, di mana mereka dapat meletakkan senjata dan perbekalan untuk memulihkan kembali kondisi fisik mereka.

          Dari pesan-pesan di atas tampak setidaknya ada dua hal penting yang mendapat perhatian besar Sang Khalifah  dalam menghadapi kekuatan besar musuh-musuh Islam, pertama: ketakwaan para mujahidin, di mana sedikit saja mereka lalai dari mengingat Allah SWT, apalagi bermaksiat kepada-Nya, maka mereka akan sangat mudah dikalahkan. Namun sebaliknya, ketika mereka senantiasa menjaga ketakwaan kepada Allah SWT, maka betapun besarnya kekuatan musuh niscaya dengan izin Allah Swt mereka bisa menghadapinya. Kedua: soliditas dan rasa kasih sayang di antara kaum Muslimin serta optimalisasi seluruh kemampuan yang mereka miliki, termasuk kondisi fisik mereka. Jika hal ini tetap dijaga, maka kekuatan besar itu akan mampu dienyahkan, meski kaum Muslimin secara dzahiriyah harus berperang dengan jumlah pasukan dan persenjataan yang tidak sebanding dengan kekuatan musuh.

          Pesan inilah yang harus senantiasa dijaga oleh para pejuang-pejuang Islam saat ini. Semoga dengan izin Allah SWT, segala kendala, rintangan, hambatan bahkan kekhawatiran akan besarnya kekuatan musuh-musuh Islam bisa dihilangkan. Sebaliknya,  kita senantiasa yakin bahwa Allah SWT bersama hamba-hambanya yang bertakawa dan terus berjuang menolong agama-Nya. Wallahu a’lam. Abu Muhtadi

9/08/2013

Inilah Sebuah Perjalanan


Aku berdiri di sebuah pusara dan merenung nasib penghuninya. Aku melihat sebuah pondok buruk yang dihuni oleh seorang yang aku kenal.

Aku bertanya padanya, "Bukankah rumahmu di dunia dahulu tersergam besar dan indah?" "Lalu, mana saja semua itu yang engkau banggakan sewaktu engkau hidup di atasnya?"

Dia menjawab duka, "Dunia telah mempermainkan cintaku. Ketika aku berkorban segalanya demi bukti cintaku padanya, dia malah meninggalkanku sendirian di pondok buruk ini."

"Di mana sahaja pangkat dan kedudukanmu yang engkau bangga dengannya?", aku kembali bertanya.
Dia menjawab, "Semua itu pura-pura tidak mengenaliku lagi di sini."

"Keluargamu?"
"Mereka telah menganggapku sebagai orang asing", jawabnya perlahan.

Aku bertanya lagi, "Lalu siapa yang menemanimu saat ini?"
Sambil tunduk menangis, dia menjawab sedih, "Kesombongan, keserakahan, kezaliman, kedurhakaan dan segala dosa-dosaku. Sungguh....mereka bukanlah teman yang baik buatku."

Aku mengeluh panjang sambil membaca ayat berikut buatnya:

“Dan dikatakan: Pada hari ini Kami melupakan kalian sebagaimana halnya dahulu kalian melupakan pertemuan dengan hari kalian ini, tempat tinggal untuk kalian adalah neraka, sama sekali tidak ada bagi kalian seorang penolong.” (QS. Al-Jatsiyah: 34)

9/06/2013

Tidak Taat Pemimpin, Akibatnya Mati Jahiliyah


mati_jahiliyahSetiap muslim diperintahkan untuk taat pemimpin. Siapa saja yang tidak mentaati pemimpinnya, maka ia dikatakan mati dalam keadaan mati jahiliyah. Apa yang dimaksud mati jahiliyah?
Dari Ibnu 'Umar radhiyallahu 'anhuma, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallambersabda,
(( مَنْ خَلَعَ يَداً مِنْ طَاعَةٍ لَقِيَ اللهَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ حُجَّةَ لَهُ ، وَمَنْ مَاتَ وَلَيْسَ في عُنُقِهِ بَيْعَةٌ ، مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً )) رواه مسلم .
وفي رواية لَهُ : (( وَمَنْ مَاتَ وَهُوَ مُفَارِقٌ لِلجَمَاعَةِ ، فَإنَّهُ يَمُوتُ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً )) .
"Barangsiapa melepaskan tangan dari ketaatan pada penguasa, maka ia akan bertemu dengan Allah pada hari kiamat dalam ia tidak punya argumen apa-apa untuk membelanya. Barangsiapa yang mati dan di lehernya tidak ada bai'at, maka ia mati seperti keadaan orang jahiliyah" (HR. Muslim no. 1851).
Dalam riwayat lain dari Imam Muslim disebutkan, "Siapa yang mati dan ia berpisah dari jama'ah, maka ia mati dalam keadaan mati jahiliyah."
Pengertian Hadits
Yang dimaksud melepaskan tangan dari ketaatan adalah tidak mau taat pada pemimpin padahal ketaatan tersebut bukan dalam perkara maksiat, lalu ia enggan berbaiat pada pemimpin.
Yang dimaksud tanpa argumen yang membelanya adalah tidak ada uzur (alasan) ketika ia membatalkan janjinya untuk taat.
Sedangkan kalimat tidak ada baiat di lehernya adalah tidak mau berbai'at, yaitu mengikat janji setia untuk taat pada pemimpin.
Mati jahiliyah yang dimaksud adalah mati dalam keadaan sesat dan salah jalansebagaimana keadaan orang-orang jahiliyah karena dahulu mereka tidak mau taat pada pemimpin bahkan mereka menilai 'aib jika mesti taat seperti itu. Namun bukanlah yang dimaksud mati jahiliyah adalah mati kafir sebagaimana sangkaan sebagian golongan yang keliru dan salah paham.
Adapun yang dimaksud berpisah dari jama'ah adalah menyelisihi kaum muslimin dalam bai'at serta tidak mau patuh dan taat kepada pemimpin yang ada.
Faedah Hadits
1- Wajib mentaati jama'ah atau penguasa yang sah dan wajib berbai'at pada mereka. Dan jama'ah yang dimaksud di sini bukanlah kelompok, golongan, atau kumpulan orang tertentu tetapi yang dimaksud adalah yang punya kuasa dan punya wilayah yang sah. Sehingga jika di negara NKRI, taat pada jama'ah berarti taat pada pimpinan negara selama bukan dalam hal maksiat.
2- Siapa yang enggan taat pada penguasa dengan membatalkan janji setianya untuk taat (baca: bai'at), maka ia berarti telah terjerumus dalam dosa besar dan telah serupa dengan kelakuan orang Jahiliyah.
3- Hendaknya setiap umat memiliki pemimpin yang urusan agama diatur oleh mereka.
4- Mati jahiliyah bukan berarti mati kafir tetapi mati dalam keadaan tidak taat pada pemimpin. Sehingga orang-orang yang enggan taat pada pemimpin atau penguasa yang mengatur maslahat mereka, maka ia pantas menyandang sifat ini.
Semoga Allah menganugerahkan kepada kita pemimpin yang jujur dan adil, yang mampu menyejahterakan rakyat. Moga kita pun dikarunia oleh Allah sebagai hamba yang taat pada Allah, Rasul-Nya dan ulil amri kaum muslimin.
Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.
 Referensi:
Bahjatun Nazhirin Syarh Riyadhis Sholihin, Syaikh Abu Usamah Salim bin 'Ied Al Hilali, terbitan Dar Ibnil Jauzi, cetakan pertama, tahun 1430 H, 1: 655.
---
Akhukum fillah,
Dilengkapi di Jayapura, Papua di rumah tercinta, 27 Dzulhijjah 1434 H
---